Berita
[Tanggal Kegiatan : 10/06/2026]
FENOMENA BURNOUT DI KALANGAN MAHASISWA PEKERJA

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, lebih dari 30 persen mahasiswa aktif pada universitas di Indonesia bahkan di batam menjalani pekerjaan paruh waktu atau penuh waktu di luar kampus. Angka ini terus meningkat seiring dengan naiknya biaya hidup dan kebutuhan akan pengalaman kerja sebelum lulus.

Namun menjalankan dua peran sekaligus bukan perkara mudah. Mahasiswa yang juga bekerja harus terus-menerus berpindah konteks dari ruang kuliah ke meja kantor, dari bahasa akademik ke bahasa profesional, dari tenggat tugas ke tenggat proyek. Perpindahan ini, jika terus-menerus terjadi tanpa jeda, menjadi salah satu pemicu utama burnout.

Fenomena ini menarik perhatian dari sudut pandang Ilmu Komunikasi. Sebab burnout bukan semata soal kelelahan fisik,  ia juga merupakan krisis komunikasi.

Ketika Komunikasi Ikut Kelelahan

Menurut Ageng Rara Cindoswari, SP., M.Si dosen Ilmu Komunikasi yang menekuni kajian psikologi komunikasi dan human relation komunikasi interpersonal, burnout secara langsung merusak kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif dan autentik.

"Salah satu gejala paling awal yang sering luput dari perhatian adalah communication withdrawal yakni penarikan diri dari interaksi sosial," jelasnya. "Mahasiswa yang mengalami burnout cenderung menghindari percakapan, menjawab pesan seadanya, atau bahkan tidak merespons sama sekali. Bukan karena tidak peduli, tapi karena mereka sudah tidak punya energi untuk terhubung."

Dalam kajian komunikasi interpersonal, kualitas hubungan sosial sangat bergantung pada konsistensi dan kedalaman interaksi. Ketika burnout melanda, keduanya terganggu. Hubungan dengan teman sekelas, dosen, bahkan rekan kerja pun perlahan merenggang  bukan karena konflik, melainkan karena ketiadaan energi untuk memeliharanya.

Tenggelam dalam Lautan Notifikasi

Selain penarikan diri, ada fenomena lain yang khas dialami mahasiswa pekerja: communication overload atau kelebihan beban komunikasi.

Bayangkan dalam satu hari: ada grup WhatsApp kelas, email dari dosen, notifikasi tugas di LMS kampus, pesan Slack dari rekan kerja, email dari atasan, dan grup koordinasi proyek. Semua datang bersamaan, semua terasa mendesak, semua membutuhkan respons.

"Otak manusia tidak dirancang untuk memproses informasi sebanyak itu secara simultan," Ujar Ibu Cindo. "Ketika terlalu banyak saluran komunikasi aktif sekaligus, terjadi cognitive overload (kelebihan beban kognitif) yang lambat laun menguras energi mental secara masif."

Studi yang dikembangkan dari teori Conservation of Resources (COR) oleh Hobfoll menjelaskan bahwa manusia memiliki sumber daya psikologis yang terbatas. Ketika sumber daya itu terus terkuras tanpa ada pengisian ulang, burnout adalah konsekuensi yang tak terhindarkan.

Menjaga Citra di Dua Panggung

Ada dimensi komunikasi lain yang turut memperparah kondisi mahasiswa pekerja: tekanan untuk selalu tampak baik-baik saja.

Sosiolog Erving Goffman menyebut fenomena ini sebagai impression management ( pengelolaan Kesan). Dalam kehidupan sehari-hari, kita semua memainkan "peran" sesuai konteks sosial kita. Di depan dosen, mahasiswa berusaha tampak bersemangat dan kompeten. Di depan atasan, mereka harus tampak profesional dan produktif. Di media sosial, mereka mengunggah momen-momen terbaik.

Tetapi di balik semua itu, ada jurang antara apa yang ditampilkan dan apa yang sesungguhnya dirasakan.

"Energi yang dihabiskan untuk menjaga citra ini sungguh nyata," ujar Ibu Cindo. "Terus-menerus 'berakting' di dua panggung sekaligus  kampus dan tempat kerja tanpa pernah menjadi diri sendiri, adalah salah satu sumber kelelahan terdalam yang sering tidak disadari."

Media sosial semakin memperumit situasi ini. Di saat kondisi sedang paling berat sekalipun, banyak mahasiswa pekerja yang tetap mengunggah konten produktif atau bahagia karena itulah yang diharapkan lingkaran pertemanan mereka.

Kekuatan Mendengarkan

Di sinilah komunikasi justru bisa menjadi obat, bukan beban.

Dalam kajian supportive communication, penelitian menunjukkan bahwa dukungan emosional yang datang dari lingkaran sosial terdekat seperti teman, keluarga, mentor yang memiliki efek perlindungan (buffer effect) yang signifikan terhadap stres dan burnout. Artinya, orang yang memiliki jaringan komunikasi dukungan yang kuat cenderung lebih tahan terhadap tekanan berkepanjangan.

Namun dukungan ini hanya bisa terjadi jika ada ruang yang aman untuk berbicara. Dan ruang seperti itu tidak tercipta dengan sendirinya, ia perlu dibangun secara sadar, baik dalam relasi pertemanan, keluarga, maupun lingkungan akademik dan kerja.

"Kampus semestinya menjadi salah satu ruang aman itu," tegas Ibu Cindo. "Dosen, konselor, bahkan sesama mahasiswa perlu dibekali kemampuan untuk memberikan respons yang empatik ketika seseorang memberanikan diri untuk bercerita."

Bicara Sebelum Terlambat: Panduan Komunikasi Asertif

Salah satu langkah paling sulit bagi mahasiswa di batam pekerja yang mengalami burnout adalah memulai percakapan tentang kondisi mereka. Berikut beberapa panduan komunikasi yang dapat membantu:

Kepada dosen atau pembimbing akademik:
Sampaikan kondisi Anda secara langsung dan spesifik, bukan samar-samar. Alih-alih menghilang atau terus meminta perpanjangan tanpa penjelasan, coba katakan: "Pak/Bu, saya sedang menghadapi situasi yang cukup berat karena harus menyeimbangkan pekerjaan dan kuliah. Saya ingin membicarakan solusi terbaik agar tanggung jawab akademik saya tetap terpenuhi."

Kepada atasan di tempat kerja:
Anda tidak harus mengungkapkan semua detail personal. Cukup sampaikan kebutuhan konkret Anda: "Saya ingin mendiskusikan beban kerja saya saat ini dan apakah ada kemungkinan penyesuaian jadwal selama periode ujian."

Kepada diri sendiri:
Burnout bukan tanda kelemahan. Ia adalah sinyal bahwa Anda telah bekerja terlalu keras dalam waktu terlalu lama. Mengakuinya kepada diri sendiri adalah langkah pertama yang paling penting.

Mengelola Batas di Era Digital

Selain komunikasi asertif, mengelola batas (boundary management) dalam komunikasi digital juga menjadi kunci.

Beberapa langkah praktis yang dapat dicoba:

  • Tetapkan jam bebas notifikasi. Matikan notifikasi grup pekerjaan di luar jam kerja yang disepakati.
  • Prioritaskan, jangan reaktif. Tidak semua pesan perlu dibalas segera. Belajarlah membedakan mana yang benar-benar mendesak.
  • Keluar dari grup yang tidak esensial. Setiap grup aktif adalah satu saluran komunikasi yang membutuhkan perhatian dan energi.
  • Buat ritual "log out" harian. Sebuah tanda simbolis bahwa hari kerja telah selesai — baik menutup laptop, berjalan-jalan singkat, atau sekadar duduk diam tanpa gawai selama 15 menit.

Kampus Sebagai Ruang Pemulihan

Universitas memiliki peran yang tidak kecil dalam merespons fenomena burnout mahasiswa pekerja. Layanan konseling kampus, program mentoring, dan kebijakan akademik yang fleksibel bukan sekadar fasilitas tambahan melainkan bagian dari tanggung jawab institusi dalam mendukung kesehatan mental mahasiswanya.

Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya kampus di mana meminta bantuan bukan dianggap lemah, dan di mana setiap orang (mahasiswa, dosen, staf) saling mempraktikkan komunikasi yang empatik dan penuh perhatian.

Karena pada akhirnya, universitas bukan hanya tempat untuk mengasah kecerdasan akademik. Ia juga semestinya menjadi tempat di mana manusia belajar untuk saling memanusiakan satu sama lain.

Kenali Tanda-Tanda Burnout dari Sudut Pandang Komunikasi:

  • Menjawab pesan lebih singkat dan dingin dari biasanya
  • Menghindari pertemuan atau diskusi kelompok
  • Merasa terbebani oleh setiap notifikasi yang masuk
  • Kesulitan berkonsentrasi saat berbicara atau mendengarkan
  • Menampilkan "wajah baik-baik saja" yang berbeda jauh dari kondisi sesungguhnya
  • Tidak lagi menikmati percakapan yang dulu terasa menyenangkan

(ARC)

Robot UPB
WhatsApp Icon