
| CREATING vs SCROLLING: Kreatif Memproduksi & Bijak Mengonsumsi di Era Digital
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) kedua dari program "Proyek Kolaborasi Kampanye dan Promosi Sekolah Berbasis Media Sosial untuk Penguatan Branding dan Literasi Digital Siswa SMA Putra Batam" telah sukses dilaksanakan. Pada pertemuan kedua ini, tema yang diangkat adalah "Creating vs Scrolling: Kreatif Memproduksi & Bijak Mengonsumsi di Era Digital." Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran literasi digital di kalangan generasi muda, khususnya siswa SMA, agar mampu menjadi pengguna media digital yang cerdas sekaligus kreatif. Acara dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Bapak Dr. Michael Jibrael Rorong, S.T., M.Ikom., CPS. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Ia mengajak para siswa untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi kreator yang memberikan dampak positif di ruang digital. Pada sesi inti, materi disampaikan oleh narasumber dari mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, yaitu Muhammad Fadhil Zuhdi Rabbani Wijaya dan Zahratunnisa Elfiriska. Keduanya membahas fenomena kebiasaan scrolling tanpa henti yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda, serta pentingnya beralih menjadi individu yang produktif dalam menciptakan konten. Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa era digital saat ini dipenuhi oleh algoritma yang terus menyajikan konten sesuai preferensi pengguna. Hal ini dapat memberikan manfaat, namun juga berpotensi menimbulkan dampak negatif apabila tidak disikapi dengan bijak. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan literasi digital yang kuat sebagai bekal utama bagi Generasi Z. Sebagai kreator, siswa diajak untuk menjadi pembuat konten yang bertanggung jawab. Mereka didorong untuk memanfaatkan strategi viral seperti hook secara bijak, dengan tujuan menyebarkan nilai-nilai positif, bukan justru memperkeruh ruang digital dengan hoaks demi mengejar popularitas semata. Sebagai konsumen, siswa juga diingatkan untuk menjaga kesehatan mental. Standar yang sering ditampilkan di media sosial, seperti "Standar TikTok", tidak seharusnya menjadi tolok ukur kebahagiaan atau penampilan dalam kehidupan nyata. Kesadaran ini penting agar generasi muda tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat. Sebagai penutup, narasumber menyampaikan pesan reflektif kepada para peserta:
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa SMA Putera Batam dapat lebih bijak dalam menggunakan media digital, serta terdorong untuk menjadi kreator yang inspiratif, inovatif, dan bertanggung jawab di era digital. (Zhr) |



