IndoCEISS Kepri Resmi Dilantik, Pakar Tekankan AI Bukan Pengganti Manusia
![]() [Tanggal Kegiatan : 06/12/2025] |
Batam - Asosiasi Indonesian Computer, Electronics and Instrumentation Support Society (IndoCEISS) resmi melebarkan sayap di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Pelantikan pengurus cabang periode baru ini menjadi momentum penting bagi pengembangan teknologi dan informasi di wilayah perbatasan.
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Universitas Putera Batam, Sabtu (6/12/2025). Ketua Umum IndoCEISS, Prof. Dra. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D, hadir langsung untuk melantik jajaran pengurus berdasarkan SK Nomor 03.10/PP/A/SK/VI/2025.
Muhammat Rasid Ridho Nakhodai IndoCEISS Kepri
Dalam SK tersebut, Muhammat Rasid Ridho, S.Kom., M.Si, yang juga merupakan Dosen Sistem Informasi Universitas Putera Batam, resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum IndoCEISS Kepri.
Sebagai informasi, IndoCEISS adalah organisasi profesi yang lahir di Yogyakarta pada 19 Januari 2010. Organisasi ini menjadi wadah bagi para pakar dan praktisi di bidang komputer, elektronika, dan instrumentasi untuk berkolaborasi menjawab tantangan zaman.
Seminar Nasional: Mengupas Sinergi Human-AI
Tak sekadar pelantikan, acara ini juga dibarengi dengan Seminar Nasional bertajuk "Human-AI Collaboration". Isu ini diangkat mengingat dunia kini tengah menghadapi ledakan data global yang masif.
Prof. Sri Hartati dalam paparannya menekankan pentingnya transformasi Sistem Informasi (SI) yang lebih responsif dan cerdas. Menurutnya, SI tradisional yang hanya berfungsi mencatat data sudah tidak lagi memadai di era hiper-konektivitas.
"Sistem harus bergerak dari sekadar penyimpanan pasif menjadi sistem aktif yang mampu merekomendasikan dan mengambil keputusan berbasis konteks," ujar Prof. Sri Hartati.
Ia menegaskan bahwa kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) seharusnya menjadi penguat (AI-augmented) bagi kapasitas manusia, bukan sebagai pengganti. "AI memperkuat kreativitas dan intuisi, bukan meniadakan peran manusia," imbuhnya.
AI Sebagai "Co-Pilot", Bukan Pengemudi Tunggal
Senada dengan hal tersebut, Dr. M. Khaerul Naim Mursalim, S.T., M menjelaskan bahwa kolaborasi manusia dan AI adalah solusi di Era 4.0+. Ia menganalogikan AI sebagai seorang co-pilot.
"AI unggul dalam kecepatan pemrosesan data masif, namun manusia tetap memegang kendali sentral dalam aspek etika, empati, dan keputusan strategis," jelas Naim.
Ia juga menyoroti pentingnya konsep Human-in-the-loop (HITL), di mana manusia tetap terlibat aktif dalam melatih dan memvalidasi keputusan-keputusan krusial yang dihasilkan oleh AI.
Tantangan Etika dan Bias Algoritma
Di sisi lain, Andi Maslan, ST, M.SI, PhD mengingatkan adanya tantangan besar di balik kemudahan AI, mulai dari potensi bias algoritma hingga masalah keamanan data.
"Masa depan adalah sinergi Manusia + AI. Kita harus membekali diri dengan literasi AI, berpikir kritis, dan kecerdasan emosional untuk menuju Industry 5.0 yang berpusat pada manusia," pungkas Andi.
Kegiatan ini menjadi langkah awal IndoCEISS Kepri untuk terus berkontribusi dalam literasi teknologi dan pengembangan riset di Kepulauan Riau.
.jpg)












