Terlampir kami sampaikan kuesioner mengenai studi terhadap kinerja dosen dalam proses belajar mengajar di STMIK Putera Batam untuk keperluan penelitian. Karena kuesioner ini semata-mata untuk kepentingan akademis maka tidak akan berdampak apa pun pada kondite responden. Untuk itu, mohon memberikan respon atas setiap item pertanyaan/pernyataan dengan leluasa dan tanpa beban, dalam arti benar-benar sesuai dengan kondisi (pendapat, perasaan, pengalaman) yang sebenarnya.
Mata Kuliah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai kebaikan kepada seluruh mahasiswa sesuai dengan sila pertama pada Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa
Sebagai Dosen pengampuh mata kuliah public speaking sangat dituntut mampu membuat kata penyemangat atau motivasi untuk merebut hati mahasiswa keluar dari krisis. Krisis yang dimaksud adalah suasana hati yang tidak sesuai dengan tujuan yang sedang dilakukan pada saat itu. Seorang dosen, kecuali pelawak, tidak diharapkan untuk membuat mahasiswanya tertawa terpingkal-pingkal sebagaimana halnya mereka menyaksikan badut. Namun demikian, kemampuan dosen untuk membuat mereka tersenyum kemudian memberikan applause meriah kepada dosen akan sangat membantu untuk mengurangi ketegangan dan kebosanan diantara mereka.
Tidak semua orang mampu menyampaikan cerita bijak atau anekdot lucu. Sebelum memulai biasanya para dosen sudah dihinggapi kekhawatiran apa yang mereka sampaikan tidak akan menciptakan rasa nyaman, menimbulkan semangat yang akhirnya malah membuat mereka kelihatan konyol didepan kelas. Kalau anda tidak bisa jangan lakukan! Tapi apabila anda mempunyai kemampuan untuk itu, tentulah akan menciptakan suasana yang berbeda dalam proses pembelajaran dilakukan.
Mari kita mulai dari saat awal pertama, yakni apa yang terjadi sesaat setelah kita lahir. Seperti yang dikatakan Weedon (1987, hal. 3), institusi sosial ada mendahului kita. Saat kita beranjak dewasa, kita belajar aturan permainan tentang apa yang “benar, alami atau baik”, dari institusi-institusi sosial seperti keluarga, agama, sekolah, dll. Saat kita belajar untuk berbicara, menguasai bahasa, kita belajar untuk memaknai, untuk memahami, pengalaman kita “according to particular ways of thinking, particular discourses, which pre-date our entry into language– sesuai dengan cara-cara berpikir tertentu, wacana-wacana tertentu, yang telah ada sebelum kita belajar berbahasa”. (Weedon, 1987, h. 33) Saat kita beranjak dewasa dalam sistem makna dan nilai tertentu, kita bisa jadi menemukan diri kita “menolak alternatif-alternatif ”, dan ngotot berpegang pada konsep apa yang “benar, alami atau baik” yang sudah kita anggap sebagai normal. Namun ketika kita keluar dari lingkungan yang familiar, lewat pendidikan atau politik, kita bisa jadi dihadapkan pada cara-cara alternatif untuk memaknai pengalaman kita, dan kita bisa jadi mempertimbangkan gagasan untuk menantang, menolak, dan menentang apa yang dulunya kita anggap “benar, alami atau baik”. Oleh karena itu, makna dominan (yang secara sosial dipandang sebagai normal), seperti makna lainnya, tidak dapat diajukan sebagai hal yang pasti, tetapi sebagai suatu wacana yang terus-menerus ditantang.
Makna dominan bukanlah suatu kebenaran yang kebal terhadap ruang dan waktu. Itulah mengapa Foucault bersikeras pada kekhususan historis. Makna dominan sesungguhnya merupakan suatu wacana, yang sama seperti wacana-wacana lain, yang terus-menerus ditantang oleh makna-makna yang lain. Dalam analisa wacana ini akan dibutuhkan penekanan pada kontelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna individu tidak sebagai subjekyang netrel yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai pemikirannya karena sangat dipengaruhi oleh kekuatan sosial bahasa tidak sebagai medium-netral yang terletak di luar si-pembicara bahasa sebagai representasi dalam membentuk subjek tertentu, tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi didalamnya digunakan untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa apa batasannya?, apa perspektifnya?, dan apa topiknya? . Wacana terlibat dalam hubungan kekuasaan pembentuk subjek; tindakan sebagai representasi sosial.
Business Conversation: Mata Kuliah ini membekali para mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan menggunakan bahasa inggris bagi karyawan, tempat dunia bisnis itu dilakukan. Bahan dalam SAP ini terdiri dari berkomunikasi lisan dan tulisan; membaca surat, dan menulis laporan perusahaan dengan benar.